Tuesday, August 7, 2007

Arsitek VS dokter

Membandingkan profesi arsitek dengan dokter, bisakah?
kalau kita perhatikan profesi yang sering dijadikan peran dalam film atau sinetron Indonesia, dokter dan arsitek adalah pilihan favorit. yang tercermin dari sana, adalah jika profesi arsitek lebih terhormat, masa depan terjamin dll, yang intinya menegaskan profesi arsitek dan dokter emang ok punya.

tapi terbayangkah oleh masyarakat bagaimana beratnya mendapatkan profesi ini?
jawabnya:
beraat!

tapi terbayangkah oleh masyarakat bagaimana menjalankan profesi ini secara idealis?
Jawabnya:
BERAAT!

tapi terbayangkah oleh masyarakat bagaimana kemapanan hidup orang-rang yang menjalankan profesi ini?
dokter....ya, biasanya orang kaya tujuh turunan.
tapi Arsitek?!,
Jawabnya:
......BERAAAAAAAAAAAAAAAAAAT!!!

setidaknya itulah yang kurasakan di kotaku, Medan.
terkadang penasaran juga, bagaimana mungkin jasa arsitek begitu murahan di kota yang perekonomian dan pembangunannya sedang pesat-pesatnya ini.

Seorang teman hanya mendapatkan gaji 1 jt rupiah setelah bekarja selama 2 tahun disebuah konsultan desain dengan CV yang numpang, artinya, konsultan ini selalu nebeng nama CV karena konsultan tersebut belum memiliki badan hukum dengan pertimbangan efisiensi.
walhasil, potong sana-sini, jasa arstiteknya pun harus rela dipottong hingga di bawah UMR Sumut yang konon adalah 1,5 jt untuk S1.
nah...saya tegaskan lagi...setelah kerja 3 tahun....jadi ketika baru masuk, gajinya taklah sampai 1 jt.

tidaklah mengherankan 2/3 teman seangkatanku hengkang dari profesi ini menjadi bankir, bahkan jadi guru privat anak SD-SMA, yang tanpa mengecap pendidikan arsitektur (yang gak beda dengan kerja rodi sepanjang malam dan mahal!) dia bisa...hiks...hikss

beberapa senior yang beruntung, berani, berelasi, berdoku gede membuat konsultan dan kontraktor. tapi jumlahnya jika dibanding persentase yang dihasilkan perguruan tinggi, tak jauh dari prediksi dosen-dosenku waktu kuliah, yaitu: tak lebih dari 10%.
apakah hasil ini bisa dijadikan bahan menggugat akreditasi kampusku yang konon A plus plus menjadi A...pes?

yang jelas ketika berkeliling di kota Medan, Sun plaza yang mentereng itu, bukan buah karya arsitek Medan,carefour/Medanfair plaza juga bukan. Bisa dihitung jari hasil karya anak Medan di bangunan kotanya.
Kalau rumah tinggal banyak sih...yah mungkin sampai disitukah kemampuan arsitek lokal?!
atau karena masih muda-muda sehingga tak dipercaya (huehehehe..iklan neh!)

Pernah suatu ketika aku menghayal,
andai..aku jadi walikota...
tak kubiarkan bangunan di Medan berdiri megah tanpa campur tangan arsitek lokalnya.
babat habis premanisme yang menyedot dana-dana di lapangan..
apalagi tikus kantor pemotong dana APBD, yang nyunat biaya proyek (sampai 50%..ck..ck..ck) kekantong pribadinya.

tapi...aku arsitek nih...
yang penghasilannya gak beda dengan seorang teman yang kerjaannya cuma 2 jam, menjual kerupuk hasil gorengannya di plaza-plaza.
hiks..hikss.

pertanyaan yang masih kupikirkan jawabannya..(huehehehe nanya sendiri, njawab sendiri neh!)
aku arsitek!..tapi apa yang bisa kulakukan agar jasa ini sama berharganya dengan dokter?
agar IAI bisa sperti IDI yang menggigit dokter asing agar hengkang dari Medan?
agar aku bisa sekaya para dokter-dokter ntuh?!
:(
ada yang bisa bantu?

No comments: