Saturday, February 23, 2008

Jangan pernah ke Palladium Plaza Medan



Rabu, 20 Februari, Gempa lagi.
Aku terbangun sore itu oleh celoteh adik dan ibuku tentang gempa yang baru saja mengoyang Medan. Padahal ketika gempa menggoyang, Ibuku panik membangunkan aku, dan aku benar-benar tak bergeming untuk bangun. Tak sadar sama sekali. Mungkin jika saja terjadi tsunami seperti di aceh, aku mungkin meninggal dalam tidur juga.

Adikku gusar. Pasalnya dia terjebak di tangga kebakaran, basement Palladium Plaza. Pusat perbelanjaan baru dekat kantor walikota Medan. " Kok bisa sih kak tangga kebakarannya melingkar?, kecil pula".
"Bisa-bisa orang mati bukan karena gempa, tapi karena berdesakan di tangga kebakaran".
Bukannya prihatin, adik bungsuku itu malah ku tempeleng.
" Kakak kan dah berulang kali katakan, jangan ke Palladium".
" Bandel banget".
Dia cuma bisa berwajah mesem dan berkata, kebetulan saja.

Plaza Palladium termasuk pusat perbelanjaan baru. Masih ingat sekali promosi penjualan lapak di gedung itu begitu menggiurkan. Cicilan ringan. Gambar bangunan (dalam 3 dimensi) yang apik tenan. Kala itu Aku nyaris tergiur untuk membuka sepetak toko di sana. Alhamdulillah tak jadi.

Aku urungkan niat ketika beberapa bulan proses pembangunan, tersiar kabar pondasi bangunan turun beberapa centi. Dan bukan sekali itu saja tersiar kabarnya.
Namun Tak sampai setahun gambar 3 dimensi itu berdiri megah dan nyata. Cantik memang. sayangnya, kemacetan yang kerap kali terjadi di sana membuat ku menghidari jalan di depan gedung itu.

Pun setelah terbangun, kasus penurunan pondasi terdengar lagi, kemudian yang memakan korban, Atap teras yang anggun terbuat dari kaca itu jatuh. Menghempas ke lantai dasar dan jalanan mengenai orang-orang dibawahnya dan tukang becak mesin yang mengais rezeki di depannya.
Bertambah deretan kejanggalan dalam bangunan ini.

Sebenarnya jika dilihat dari tata kota pun, peletakan pusat belanja ini seolah tak pada tempatnya. Sekitarnya adalah pusat perkantoran dan pemerintahan.

Pernah satu kali ku berkunjung kesana.
Penasaran sebagai arsitek mencicipi ruang di dalamnya. Dan...aku jera.
Memasuki basement yang curam dan sempit aku serasa memasuki ruangan yang menyeramkan. Tak heran, banyak yang justru parkir di pelataran parkir kantor walikota daripada harus masuk ke ruang parkir palladium itu.

Melewati toko-toko yang sempit sangat beda dengan tampilan dari luarnya yang megah. Plaza ini sangat tidak mempedulikan ruang publik. Jarak sirkulasi hanya 2 meter. Sungguh ku merasa sesak di dalamnya. Toko yang buka pun tak banyak. Tak sempat ku mengupas ruang servicenya, toilet dan musholla. Ku langsung hengkang tanpa membeli buah tangan. Cukup sekali ini saja ke Palladium. titik.

Hmm...Aku penasaran, siapa sih arsiteknya?
Siapa sih pemiliknya?
akan kah mereka ambil pelajaran dari bangunan yang gagal ini?.
Satu lagi....hampir terlupa
Bisakah Pak Walikota belajar dari bangunan megah di samping kator dinasnya ini?



2 comments:

emanrais said...

Di Ciledug pernah ada bangunan runtuh yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang besuar. Klo Palladium itu potensial menimbulkan bencana, kenapa tak dirubuhkan saja. Pasti deh pemiliknya bilang, tenang aja abah gaul. Toh sudah di cover asuransi. Laporin ke instansi terkait dong Pera! kasihanilah rakyatmu.

peranita said...

dah banyak yang komplain abah...tapi walikota diam aja...
wong yang ngerjain gedung itu masih abangnya walikota hehehe..pera taunya karena kebetulan pernah di tawarin kerja disana, tapi ada tawaran yang lebih menarik.
klo ambruk..kayaknya bagus juga tuh...kan nimpanya ke gedung walikota hehehe...