Monday, January 7, 2008

Keunikan Konstruksi Rumah di Pesisir Pantai Barat Aceh

Bangunan Rumah tinggal di pesisir pantai aceh barat memiliki konstruksi yang unik, yang tidak kutemukan di propinsi Sumatera Utara ataupun daerah yang pernah ku kunjungi. Keunikan itu terdapat pada:



1. Dinding
Kondisi tanah di pesisir pantai Barat Aceh tidak begitu bagus untuk membuat bata. Bata disana ukurannya tidak seragam, rata-rata 5 x 12 cm dengan tebal 2-3 cm. Itupun kualitas tidak bagus karena mudah pecah. Mungkin kondisi ini yang kemudian membuat penduduk pesisir disana lebih suka membuat rumah dengan dinding cor beton. Caranya, setelah kolom selesai (bisa kolom beton tapi kebanyakan menggunakan tiang kayu), dengan bantuan 2 lembar papan terhubung ke kolom yang di pasang sejajar, adonan cor beton di tuang di sela kedua papan tersebut.
Setelah cukup mengeras, lapisan cor berikutnya dituang diatasnya lagi. demikian seterusnya hingga sesuai kebutuhan tinggi rumah.
Adonan cor beton tersebut tidak seperti stadart campuran plester bata 1:4, tapi lebih banyak pasirnya. Dari sebuah diskusi dengan salah seorang tukang di sana, mereka cuma butuh lebih kurang 10 sak semen 40kg untuk membangun rumah tipe 42. (bandingkan dengan bantuan sement yang kami berikan untuk tipe 42 sebanyak 146 sak semen. Tak heran ketika tsunami terjadi, banyak rumah yang langsung hancur.

2. Pondasi
Pondasi bangunan di Pesisir pantai barat Aceh ini biasanya terdiri dari 2 bagian. lapisan pertama adalah pondasi batukali, sedangkan lapisan kedua di bagian paling atas, adalah Pondasi Cor beton. Untuk pondasi bagian atas kadang di buat diatas permukaan tanah setinggi 20 cm.
Kondisi ini cukup menarik, karena satu sisi kelebihannya adalah air akan lebih sulit meresap ke dalam rumah.
yang kedua...(aku blum tahu pasti), tapi mungkinkah ini adalah kearifan lokal disana untuk mengatisipasi gempa?


3. Peletakan Septiktank
Cukup sulit meminta masyarakat untuk membangun septiktank yang berjarak 10 meter dari sumut. ternyata masyarakat di sana belum terbiasa menggunakan WC. Sering kutemukan jarak septiktank yang kurang dari 10 meter dari sumur. Kalau sudah begini, pemilik rumah biasanya berdalih, Tidap apa-apa dik, karena Septiktanknya lebih dekat ke pantai dari pada sumur, jadi aliran air tanahnya tidak melewati spetiktank lebih dulu. Hmmm...masuk akal juga bukan?.

1 comment:

emanrais said...

Kayaknya masyarakatnya didikan arsitek zaman VOC so so tuh Pera.